JUARA 1 ESSAY/OPINI LOMBA ESSAY TEMA "REVOLUSI BISINIS DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0"


REVOLUSI BISNIS DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 
"GEOEKONOMI DIGITAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0"
Oleh : Siti Kiroomim Baroroh
(Mahasiswi S1 Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun)

A.  Pendahuluan
Ketika manusia masih belum bisa menerima kegaduhan atas perubahan 
yang terjadi, kini muncul lagi isu yang tidak kalah penting. Yakni hadirnya era 
revolusi industri chapter 4.0, yang mana di belakangnya telah menunggu beragam konsekuensi yang membuntuti. Seperti munculnya istilah geoekonomi digital yang sejalan dengan ekosistem digital. Dan tak lupa fenomena yang telah mengganggu di kalangan masyarakat yaitu kabar membuat beragam sistem lama menjadi usang. Beragam istilah yang tergolong baru tersebut memiliki dampak yang tidak sederhana bagi kehidupan di masa mendatang. Dan faktor yang paling terdampak atas peristiwa tersebut adalah sektor ekonomi.
Industri 4.0 disebut juga sebagai zaman revolusi industri keempat yang mana memiliki sejumlah penanda pokok: muncul dan berkembangnya sistem fisik-siber (cyberphysical systems yang menyatukan dunia fisik, digital, dan biologis), the Internet of things, cloud computing, dan cognitive computing. Di dalamnya juga muncul istilah geoekonomi digital, sebuah sistem digital yang memetakan potensi ekonomi sebuah negara di era Industri 4.0. Dalam ekosistem digital, segala sesuatu yang manual, natural, dan mekanis akan tergantikan yang digital.[1]
World Economic Forum (WEF) memang memperkirakan, dalam periode 2015 hingga 2020 mendatang, terdapat jutaan pekerjaan akan berkurang dan digantikan oleh mesin, robot, artificial intelligence, dan perangkat komputerisasi lainnya. WEF membuat enam kelompok pekerjaan yang jumlahnya akan menurun signifikan selama lima tahun. Administrasi perkantoran adalah sektor kerja yang paling banyak akan menutup lapangan kerja bagi manusia, sekitar 4,8 juta. Disusul manufaktur dan produksi yang akan mengurangi hingga 1,6 juta tenaga kerja. Peringkat ketiga adalah konstruksi dan ekstraksi yang akan meminggirkan setengah juta manusia, lalu disusul desain, seni, hiburan, dan media sebesar kurang lebih 150 ribu orang. Sektor hukum dan legal akan menyusut hingga 100 ribu lapangan kerja, dan instalasi dan pemeliharaan akan menyusut hingga 40 ribu.[2]
Dua tahun sejak laporan tersebut dilansir, perkiraan WEF mulai jadi kenyataan. Bisnis-bisnis yang mulai menunjukkan deformasi dalam hal lapangan pekerjaan antara lain adalah perbankan dan perminyakan (ekstraksi). Di dalam industri perbankan, bank-bank besar di tanah air mulai tahun ini sudah akan membuka mesin teller yang akan menggantikan pegawai-pegawai yang melayani konsumen.
Sejak September 2016, transaksi perbankan daring (online banking) sudah melampaui transaksi yang dilakukan di cabang-cabang. Sementara industri perminyakan juga mulai mengurangi karyawan-karyawan mereka, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan kantoran, sejak awal tahun 2017.
Hal ini menjadi sebuah tantangan baru generasi muda Indonesia di masa yang akan datang. Terkhusus bagi mereka yang akan menjadi calon tenaga kerja, sebut saja mereka dari kalangan mahasiswa. Untuk itu melalui esai ini, penulis berharap apa yang dipaparkan akan menghadirkan sebuah pandangan baru terkait revolusi industri 4.0 dan tentunya dapat memberi kesadaran dalam menghadapi tantangan di era revolusi industri, terkhusus bagi mahasiswa yang akan menjadi calon tenaga kerja baru di masa yang akan datang.  
B.  Pembahasan
Indonesia di bidang ekonomi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dalam 17 tahun terakhir telah mencapai perkembangan sampai enam kali lipat. Target di tahun 2030 Indonesia menjadi peringkat 10 besar ekonomi terkuat di dunia dalam bidang Industri.[3] Dalam menghadapi era revolusi industri 4.0, Kementrian Perindustrian Indonesia melakukan pemetaan terhadap sektor industri yang menjadi fokus dalam memajukan revolusi industri 4.0. Berikut 5 sektor industri yang telah didampaikan oleh Kementrian Perindustrian.
 






kelima sektor ini dipilih lantaran implementasi dari kelima sektor tersebut yang mudah diterapkan. Selain itu, biaya industri untuk kelima sektor ini tergolong murah dan kelima sektor indutri ini memiliki sasaran mangsa yang besar, tidak hanya pasar lokal saja tetapi juga pasar mancanegera khususnya ASEAN. [4]
Sektor industri tersebut mampu bersaing dengan tujuan yang sudah direncanakan. Pertama industri makanan, dimana dalam sektor industri tersebut dengan menggunakan robot industri, proses produksi makanan dan minuman akan semakin cepat dan dapat mengalami jumlah produksi yang meningkat. Hal ini akan menambah pendapatan ekonomi nasional yang lebih meningkat pula. Industri makanan dan minuman ini ditargetkan menuju kekuatan  besar di ASEAN.  Kedua industri kimia. Di sektor ini targetnya adalah menjadikan Indonesia menjadi pemain unggul di sektor biokimia.
Ketiga Industri tekstil dan pakaian jadi. Dimana industri tekstil dan pakaian jadi juga menjadi sektor yang dapat ditargetkan mampu bersaing di era Industri 4.0. Keempat industri elektronik, sektor ini akan menjadi target yang besar. Karena dengan revolusi industri 4.0 maka teknologi juga akan semakin canggih dan tentunya banyak negara yang akan membutuhkan kemajuan elektoronik dengan kemampuann yang lebih pintar dan canggih pula. Terakhir  industri otomotif. Industri ini juga diyakini mampu bersaing di era revolusi industri 4.0, misalnya dengan ban mobil yang menggunakan bahan baku dari karet, Indonesia memiliki kekayaan berupa pohon karet yang sangat  banyak, bahan baku tersebut di olah menjadi bahan setengah jadi, kemudian di ekspor untuk dibuat menjadi ban yang siap difungsikan dan diimpor lagi oleh Indonesia. Disinilah diharapakan industri otomotif dapat melakukan kegitan produksi mulai dari awal berupa bahan baku sampai tahap finishing. Hal ini akan menambah devisa negara karena bahan yang sudah siap dipakai nilai jualnya lebih tinggi dibanding dengan barang setengah jadi.[5]
Perkembangan  revolusi industri yang memiliki kecepatan tiga kali lipat dari revolusi industri pertama memaksa Industri nasional untuk memiliki beberapa sektor industri yang berbasis digital. Dimana mesin yang canggih dan memiliki kecepatan bekerja yang lebih cepat dari manusia sangat dibutuhkakan. Hal ini memberikan dampak kekhawatiran bagi calon tenaga kerja di masa mendatang terkhusus mahasiswa yang masih dalam proses menyelesaikan pendidikannya.
 








Jejak pendapat tersebut menjelaskan bahwa sebanyak 59,3% masyarakat Indonesia khawatir terhadap masa depan mereka dalam persaingan era digital, dan masalah yang menjadi sangat krusial adalah masalah lowongan pekerjaan yang tersedia.[6]
Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI memaparkan pengalamannya pada kolom harian Kompas. Dalam beberapa seminar dan diskusi di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Universitas Padjadjaran di Bandung, Universitas Andalas di Padang, dan Universitas Hasanuddin di Makassar tiga bulan terakhir ini. Beliau memaparkan telah menangkap kegelisahan para mahasiswa tentang beberapa profesi yang diperkirakan menyusut drastis seiring dengan perkembangan ekonomi digital. Pertanyaan yang sering mereka ajukan adalah “Jika banyak profesi dan pekerjaan manusia akan digantikan mesin, bagaimana kami yang masih muda ini akan memperoleh lapangan pekerjaan ?” [7]
Walapun era revolusi industri membutuhkan mesin yang lebih canggih dan banyak aktivatas manusia yang dapat digantikan dengan mesin karena mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas dalam produksi, hal ini tetap akan menambah peluang lowongan pekerjaan yang baru. Misalnya, industri tekstil. Seseorang yang sebelumnya tidak mendapatkan pekerjaan dalam mengolah tekstil, mereka dapat bekerja di industri manufaktur yang menyediakan robot-robot pembuat mesin tekstil. Dalam hal ini teknologi mesin canggih untuk memproduksi mesin tekstil tentu akan semakin banyak dibutuhkan oleh beberapa perusahaan. Tentunya dalam pengolahan ini akan membuka lowongan pekerjaan baru bagi tenaga kerja yang ahli dalam bidang pembuatan mesin berbasis digital.[8]
Geliat pengguna internet untuk perdagangan yang semakin bertambah mendorong munculnya bisnis baru yang sekarang banyak dikatakan sebagai start up bisnis. Semua bisnis tersebut bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa yang memenuhi kebutuhan sehari- hari, mayoritas dari mereka bergerak di bidang online. Berdasarkan pengembangan pengetahuan bisnis start up ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam kegiatan pemasaran digital start up untuk mencapai target pasar dan mengantisipasi persaingan yaitu pendistribusian informasi dengan menggunakan berbagai media digital untuk menyebarluaskan atau mendistribusikan yang terkait dengan bisnis digital yang dijalankan.[9]
 Dalam kondisi saat ini Indonesia harus memperhatikan generasi penerusnya, dimana kunci daya saing bangsa yang terpenting adalah sumber daya manusia nya. Maka yang dilakukan saat ini adalah melakukan up-skilling dan re-skilling .  Jadi, para generasi muda khususnya mereka yang akan menjadi calon tenaga kerja baru di masa depan yang sudah memahami bidang nya maka akan dilakukan re-skliing dengan memperkuat pemahaman dalam bidang manufaktur dalam menghadapi era industri digital, dan yang belum memiliki skill di bidang manufaktur akan dilakukan up-skilling yaitu diberi keterampilan dan mengenai analisis data dan koding.[10]
Penopang industri 4.0 adalah sektor manufaktur. Saat ini hal penting yang harus dilakukan yaitu melakukan akselerasi atau percepatan. Khususnya merubah kurikulum di SMK atau sekolah Vokasi pada umumnya. Seperti halnya guru, bukan guru yang secara standard atau seperti umumnya yang dibutuhkan. Namun guru yang expert di bidang industri yang diminta unutuk mengajar ke anak didik, sehingga link and match  dalam menghadapi era industri 4.0 antara pemegang kebijakan dan pelaku usaha akan tercipta.[11]
Indonesia memiliki 10 inisiatif dalam menghadapai revolusi industri 4.0 dimana salah satunya adalah memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan teknologi. Dengan cara jual beli online dan meningkatkan infrastruktur digital sepereti jaringan telekomunikasi dan platform digital.
Dalam revolusi industri 4.0 ini banyak sekali sektor industri yang mulai beralih ke sistem digital. Dimana semua pekerjaan akan terlaksana semakin tanggap, cepat, dan tepat. Presiden Jokowi berulang kali juga menyatakan pentingnya membukakan wawasan baru bagi anak-anak muda untuk terjun dalam kewirausahaan. Pada tingkat ini, pemerintah berupaya terus membangun ekosistem - ekosistem kewirausahaan sehingga dapat memanfaatkan potensi yang tersimpan dalam gerak zaman ekonomi digital ini. Usaha yang dilakukan Presiden Jokowi ini memiliki resonansi kuat dengan jejak rekam keberhasilan para ”penguasa” ekonomi digital. Salah satu karakter unik industri perusahaan pemula (start-up) berbasis digital adalah faktor diferensiasi dan daya saing yang didasari kemampuan identifikasi masalah serta potensi solusi di tingkat yang sangat mendalam. Di titik inilah kesadaran atas bisnis via digital perlu dibangun, terutama di kalangan mahasiswa. Mengingat arus disrupsi di ranah ekonomi akun terus terjadi. Mental wirausaha berbasis digital yang mengedepankan kreativitas perlu dimiliki oleh generasi muda. [12]
C.  Kesimpulan
Perubahan yang telah terjadi tidak bisa dihindarkan. Abad teknologi telah berjalan begitu pula dengan era industri 4.0 yang telah di depan mata. Sementara geoekonomi digital juga mengambil peran dalam kapitalisme global bentuk baru. Era revolusi Industri 4.0 telah memasuki waktu yang tepat. Hal yang dilakukan sekarang ini terkhusus bagi mahasiswa yaitu diharuskan mampu menguasai setidaknya ilmu dasar tentang industri manufaktur. Sehingga, suatu saat tidak haanya ahli di bidang profesi yang ditekuni tetapi tetap mampu bersaing di kancah global melalui wirausaha yang menggunakan akses digital. Re-desain kurikulum kampus perlu dilakukan untuk menghadirkan kesadaran bisnis digital di lingkungan kampus. Dengan tujuan untuk mempersiapkan mahasiswa menyongsong abad baru bisnis ekonomi berbasis digital.
















Daftar Pustaka
Antara, Ngakan Timur. Kepala BPPI Kementrian Perindustrian. “Indonesia di Tengah Tantangan Revolusi Industri 4.0”.  CNN Indonesia. 8 Februari 2019
Baskara, Bima. “Ketar Ketir Menghadapi Masa Depan”. Litbang harian Kompas.  5 Januari 2018
Future of Jobs Report. WEF. 2016
Hartanto, Erlangga. Menteri Kementrian Indonesia. “Kemenperin Fokus Majukan 5 Sektor Industri”. IDX Channel. 12 Maret 2019

Nugraha, Aryan Eka Prastya. Novika Wahyuhastuti.Start Up Digital Business: Sebagai Solusi Penggerak Wirausaha Muda”. Jurnal Nusantara Aplikasi Manajemen Bisnis . Vol 2 No. 1, 18 April 2017

Nugroho, Yanuar. Catatan Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI Geoekonomi Digital”. Harian KOMPAS. 5 Maret 2018
Riznanto, Bambang. Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Indsutri pada Kementrian Perinduatrian Indonesia, sebagai pembicara dalam Studium Generale KU-4078. Aula Barat Kampus ITB. Bandung. Sabtu 24 November 2018
Yudhistira, Bima. Ekonom INDEF. “Indonesia di Tengah Tantangan Revolusi Industri 4.0”.   CNN Indonesia. 8 Februari 2019



[1] Yanuar Nugroho, Catatan Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI, “Geoekonomi Digital”, Harian KOMPAS , 5 Maret 2018
[2] Future of Jobs Report, WEF, 2016
[3] Bambang Riznanto, Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Indsutri pada Kementrian Perinduatrian Indonesia, sebagai pembicara dalam Studium Generale KU-4078, Aula Barat Kampus ITB, Bandung, Sabtu 24 November 2018
[4] Airlangga Hartanto, Menteri Perindustrian Indonesia, “Kemenperin Fokus Majukan 5 Sektor Industri”, IDX Channel, 12 Maret 2019
[5] Bima Yudhistira, Ekonom INDEF, “Indonesia di Tengah Tantangan Revolusi Industri 4.0”, CNN Indonesia, 8 Februari 2019
[6] Bima Baskara, “Ketar Ketir Menghadapi Masa Depan”, Litbang harian Kompas, 5 Januari 2018
[7] Nugroho, “Geoekonomi Digital…,
[8] Yudhistira, “Indonesia di Tengah…,

[9] Aryan Eka Prastya Nugraha, Novika Wahyuhastuti,Start Up Digital Business: Sebagai Solusi Penggerak Wirausaha Muda”, Jurnal Nusantara Aplikasi Manajemen Bisnis , Vol 2 No. 1, 18 April 2017

[10] Ngakan Timur Antara, Kepala BPPI Kementrian Perindustrian, “Indonesia di Tengah Tantangan Revolusi Industri 4.0”, CNN Indonesia, 8 Februari 2019
[11] Yudhistira, “Indonesia di Tengah…,
[12] Nugroho, “Geoekonomi Digital…,

Comments

Popular posts from this blog

CARA MEMBUAT AKUN BEASISWA TURKIYE BURSLARI 2019 (YTB)

CARA MENDAFTAR DAN MENGISI AKUN BEASISWA TURKIYE BURSLARI (YTB)

CARA LULUS SELEKSI DAN DITERIMA BEASISWA TURKIYE BURSLARI (YTB)